Tampilkan postingan dengan label rp. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rp. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Februari 2014

15 Rp 10 000 garuda 1964

Seri Pekerja 10.000 rupiah 1964 garuda


Setelah kita belajar dengan serius tentang sejarah pemotongan uang macan dan gajah, maka pada kesempatan kali ini kita akan membahas materi yang lebih ringan, yaitu tanda air pada pecahan 10.000 rupiah garuda seri pekerja 1964. Yang pada KUKI diberikan nomor H-294.


Pekerja 10.000 rupiah 1964 garuda


Sebagaimana kita ketahui, uang kertas ini mempunyai dua variasi tanda air, yaitu garuda renteng di baris tengah (yang sedikit lebih sulit ditemukan) dan di baris kanan-kiri.



Tanda air garuda renteng baris tengah




Tanda air garuda renteng baris kanan-kiri

Menjadi pertanyaan para kolektor, benarkah memang sengaja dibuat dua variasi ataukah ada hal lainnya yang perlu dicermati? Bila memang sengaja dibuat dalam 2 variasi tanda air, seharusnya terdapat perbedaan pada prefiks nomor serinya, misalnya dari A sampai E baris tengah, lalu mulai dari F dan seterusnya baris kanan-kiri. Tetapi pada kenyataannya tidaklah demikian. Seringkali ditemukan kedua variasi tanda air tersebut terdapat pada prefiks yang sama, contoh adalah prefiks KWW. Pada dua uang kertas yang berbeda tetapi memiliki prefiks KWW ditemukan kedua variasi tanda air.


Bila benar demikian, bagaimana bisa terjadi dua tanda air yang berbeda bisa dicetak secara bersamaan? Mari kita pelajari bersama.




Ukuran panjang uang kertas ini adalah 170 mm, dan jarak antara kedua tanda air pada variasi baris kanan-kiri adalah 120 mm, berarti ada sisa sekitar 50 mm atau sekitar 25 mm dari pinggir kertas. Perhatikan gambar di bawah.


Jarak antar tanda air 120 mm, lebih pendek dari panjang kertas yang 170 mm


Sedangkan untuk variasi baris tengah, karena tanda airnya tepat di tengah, maka ada jarak sekitar 85 mm ke bagian tepi kertas. Menurut ukuran-ukuran ini, dimana jarak antar tanda air lebih pendek daripada panjang kertas uang, ditambah ditemukannya variasi tanda air yang berbeda pada prefiks yang sama, maka para kolektor dan pengamat uang kertas berasumsi demikian:

Kedua variasi tanda air tercetak secara bersamaan dengan komposisi yang sangat mungkin seperti pada gambar di bawah ini:






Bila asumsi ini benar, maka pertanyaan mengapa pada prefiks yang sama bisa terdapat tanda air yang berbeda menjadi terjawab. Selain itu variasi garuda renteng baris tengah akan dicetak 50% lebih sedikit dibandingkan variasi kanan-kiri. Sehingga tidaklah mengherankan bila variasi baris tengah menjadi lebih sulit ditemukan dan bernilai sedikit lebih tinggi.


Kedua jenis variasi tanda air ini juga ditemukan pada pecahan 5000 rupiah 1958 violet, tetapi komposisi cetaknya terbalik, jenis yang baris tengah 50% lebih banyak dibandingkan dengan yang baris kanan-kiri. Sangat mungkin cara mencetaknya juga mengikuti aturan di atas.



Kesimpulan di atas dibuat berdasarkan perkiraan para kolektor dan pengamat uang kertas, betul atau tidaknya hanya pihak percetakan yang mengetahuinya.

Semoga kisah singkat dan ringan ini dapat menambah wawasan kita semua.






Jakarta 30 Mei 2010

Kritik dan saran hubungi arifindr@gmail.com



Sumber:

1. Jurnal rupiah

2. KUKI 2010

3. Katalog lelang Java Auction 2007, 2008, 2009


Minggu, 08 Desember 2013

Burung cucak jenggot 10 bulan diharga Rp 10 juta…

Meski pasokan piyikan burung cucak jenggot tidak sebanyak pleci, permintaan jenis burung masteran yang juga memiliki kasta tinggi dalam lomba ini terus meningkat. Hanya saja sasaran bidik penghobi saat uni bukan lagi burung dewasa.

Ya, sebagian besar jenggotmania banyak menjatuhkan pilihannya pada cucak jenggot piyikan yang masih harus diloloh pakan oleh pemiliknya. Para penghobi rela merawat sampai cucak jenggot bisa makan sendiri.

Masalahnya saat ini, selain pasokannya memang sedikit, piyikan cucak jenggot menjadi momok bagi pedagang burung, lantaran risiko kematiannya sangat besar. Akibatnya, mereka yang belum berpengalaman enggan menyetok atau memperdagangkannya, walaupun keuntungan yang diperoleh cukup menggiurkan.

Lantas mengapa masih saja ada pedagang yang berani mengambil risiko? Di sinilah rahasianya dan itulah yang kini jadi modal bagi Udin Plencung, salah satu pedagang burung di pasar burung Empu Nala Mojokerto. Selain selalu memajang berbagai jenis ‘burung jadi’ dan ‘burung setengah jadi’, di kiosnya juga bisa ditemui piyikan cucak jenggot untuk diperjualbelikan.

Menurutnya, rawatan piyikan cucak jenggot yang dipasok dari Surabaya dan berasal dari daerah Bali tersebut sebenarnya mudah. Tentu hal mudah bagi yang sudah berpengalaman. Pengalaman Udin diperoleh setelah dia melakukan berbagai cara perawatan. Awalnya dia mendatangkan 20 ekor piyikan cucak jenggot umur 10 hari. Selang beberapa hari kemudian, tujuh ekor di antara burung itu mati. Sudah bisa terbayangkan berapa kerugian yang dideritanya.

Untuk pasokan berikut, ia mulai mengenali beberapa piyikan cucak jenggot yang kurang sehat. Ciri cucak jenggot piyikan kurang sehat antara lain suara trecetan lemah, selaput mata bewarna pucat, begitu juga dengan segala aktifivasnya pun kurang lincah. Untuk mengantisipasi semua kemungkinan buruk, Udin melakukan pemberian antibiotik. Obat dilarutkan atau dicampur ke air minum serta adonan pakan yang hendak dilolohkan.

Campuran pakan yang biasa dibuat berupa voor, kroto, pisang dan air yang dihaluskan. Sedangkan untuk tambahan pakan atau extra fooding yang disuapkan langsung adalah jangkrik kecil dalam jumlah cukup banyak.

Cara yang lebih afdol dalam memberi makan burung cucak jenggot, katannya, dengan cara dispetkan menggunakan pipet suntik yang ujungnya diberi pipa plastik berdiameter kecil. Jadi sistem pemberian pakannya menyerupai rawatan piyikan murai batu.

Menurut dia, selama ini pembeli lebih memilih anakan yang sudah bisa makan sendiri. Seperti piyikan murai batu, piyikan cucak jenggot umur satu bulan biasanya baru bisa mandiri. Terkadang bisa lebih cepat bila ada salah satu di antara anakan itu yang mandiri karena akan memicu piyikan lain belajar makan sendiri.

Harga yang dipatok untuk cucak jenggot piyikan cukup bervariasi, berkisar antara Rp. 300 hingga Rp. 400 ribu per ekor.

Umur 10 bulan Rp. 10 juta?

Udin Plencung mengatakan kelebihan cucak jenggot piyikan adalah mudah dalam pemasteran. Suara master bisa apa sesuai selera pemiliknya. Jika pemasterannya bagus, maka burung akan memiliki keunggulan lagu yang menonjol di lapangan dan bisa berharga mahal.

Sebagai contoh, katanya, adalah cucak jenggot umur 10 bulan milik Bambang S dari Pacet, Mojokerto. Burung yang diberi nama Ayu Ting Ting dan juara satu di latber IKPBM awal bulan itu laku Rp. 10 juta. Padahal suara greja tarung dan tengkek yang dilagukannya ketika itu, juga belum terdengar jelas. Hanya semangat tempur yang meciptakan kegacoran hingga burung itu meraih gelar juara.

Sumber : http://omkicau.com/2012/06/09/burung-cucak-jenggot-10-bulan-diharga-rp-10-juta/