Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Februari 2014

Sejarah Asal Usul Ekstasi

Semula ditemukan untuk digunakan merangsang nafsu makan. Setelah melalui berbagai tes percobaan, tablet itu dinyatakan siap dipasarkan. Sekarang ini diperkirakan tak kurang dari 100 ribu muda-mudi terpuruk dalam penggunaan obat ini. Itu baru di Jerman. Belum di negara-negara di Eropa, belum lagi di Amerika Serikat. Belum lagi di kota-kota di seluruh dunia. Kata orang yang memuja penggunaan tablet ecstasy ini, kalau mati dalam penggunaannya adalah mati karena kegembiraan.


Bunuh Diri Karena Ekstasi
Adalah Marcim Galinski yang baru saja minum-minum di suatu pesta umum yang diselenggarakan seseorang. Kemudian ia menelan tablet ecstasy sebelum pulang ke tempat tinggal bersama dengan pacarnya. Pemuda asal Polandia yang berusia 24 tahun ini kemudian mengunci pintu ruangannya rapat-rapat dan tidak ada orang bisa masuk.

Ia tinggal di Altona, dan memutuskan untuk bunuh diri. Ia mengambil pedang samurai, menikam dirinya sendiri tepat pada jantungnya. Peristiwa tersebut terjadi baru-baru ini, dan ia adalah orang ke-91 yang melakukan hal serupa dengan latar belakang serupa pula.

Kematian karena bunuh diri setelah menggunakan obat terlarang itu di Kota Hansa, Jerman, bukan hanya beberapa kali saja, tetapi telah sering. Obat seolah barang permainan. Penguasa di kota-kota lain tidak membuat catatan yang cukup mengejutkan akibat penggunaan obat ecstasy ini.

Berapa banyak korban yang melakuan bunuh diri, baik melakukan percobaan maupun yang sampai meninggal? Jumlahnya tidak ada yang tahu secara tepat. Mungkin perhitungannya bisa dengan melihat pada jumlah pemakaiannya saja. Diperkirakan, hingga kini ada sekitar 60 ribu tablet digunakan secara liar, tanpa menggunakan resep dokter.

Jumlah itu ditemukan oleh penyelidik kriminal. Penyelidik itu mengatakan, penggunaannya mirip dengan "sifat gunung es" di lautan, yang kelihatan hanya sepersepuluh, sedangkan yang tidak kelihatan di bawahnya adalah bagian yang sangat besar. Ini baru yang disebut dengan nama pengenalannya sebagai ecstasy saja. Jadi, belum lagi dari jenis baru yang dikenal dengan nama mirip dengan LSD, dan dikatakan sebagai "Speed". Padahal, sebenarnya tak lain dari tablet amphetamin murni, yang mempunyai efek kerja sampai beberapa jam kemudian mempengaruhi pemakainya.

Harga dan Pasaran Ekstasi
Akan halnya tablet yang disebut "bahan harmoni" adalah ec- stasy. Pil ini sebagai perangsang yang memberi dorongan semangat dan menyebabkan peregangan pada saraf otak, dan selan- jutnya menimbulkan halusinasi ringan. Harganya tidak berbeda banyak dengan kokain, yakni 20 hingga 50 mark. Menurut para penyelidik di Berlin atau di Frankfurt, tablet ini telah digunakan sekitar 10 ribu tablet, dan sekitar 100 ribu beredar di seluruh Republik Federasi Jerman.

Obat ajaib ecstasy ini sebelumnya datang dari Inggris. Dipesan ke Jerman melalui informasi radio. Dan sama dengan barang lain, dikirim melalui Selat Dover. Bahan ini sebenarnya telah dikenal sejak tahun 1912, dan merupakan bahan penting dalam pengobatan dengan menggunakan nama yang agak sulit diingat, yaitu Methyldioxyn-Mthylamphetamin (MDMA). Penemunya adalah perusahaan farmasi Ernst Merck di Darmstadt pada tahun 1914 dengan nama "tiruan minyak Sassafras-Staude". Sebagai pemegang hak patennya, perusahaan ini kemudian dilupakan orang.

Dari Obat Perangsang nafsu Makan sampai Obat Pencari Kebenaran
Pada awalnya bahan ini disediakan orang sebagai bahan perangsang nafsu makan, yang kemudian pada tahun 50-an orang malah lebih mengenalnya sebagai obat "pencari kebenaran", yang dikembangkan di Angkatan Darat AS. Olehpenyelidik insektisida, Alexander Shulgin, pada tahun 1965 ditemukan kembali sebagai MDMA tadi. Kemudian oleh para ahli psikotherapi Amerika Serikat digunakan untuk pengobatan pasien-pasien yang sudah parah.
Efek yang diberikan obat ini luar biasa. Yakni, dapat menyebabkan orang, yang biasanya tenang tercengang-cengang, menjadi penuh semangat luar biasa. Dan ia bersedia melakukan apa saja, yang ketika dalam keadaan biasa sukar dipercaya bisa dilakukannya. Bahan inilah yang terdapat dalam obat ini, yang membedakannya dengan obat penenang atau perangsang lainnya.

Bahan ini sering disebut "penisilin untuk jiwa", mengingat menjadi bahan pengantar pada serotonin dalam cairan otak dan dapat pula berfungsi sebagai tablet "Prozac" yang berfungsi sebagai antidepresif. Tapi akan berakibat buruk kalau dicampur dengan bahan alkohol, sehingga dapat membuat penggunanya kecanduan dan mengulangi lagi memakainya.
 

Efek Menakutkan Untuk Otak Si Pemakai

Setelah dilakukan percobaan pada tikus dan kera, masih saja ditemukan akibatnya berupa kelainan pada otak yang sangat menakutkan. Karena itu, pada 1958, penggunaan MDMA dilarang di Amerika Serikat . Pada tahun berikutnya, bahan ini sampai di Jerman, digunakan untuk pembius, dan diberi nama "Index".
 

Polisi jarang bertinjauan menemukan dalam jumlah besar per- dagangan bahan obat kimia ini. Sebagai barang dagangan, polisi memang pernah menggaruknya di Amsterdam pada 1989. Ketika itu, dengan bantuan penyelidik (detektif) dari Jerman, mereka ber- tinjauan menyita 90 ribu tablet ecstasy. Obat ini merupakan tinjauan produksi sebuah perusahaan farmasi besar, yang diproduksi di daerah Baden, melalui rumah-rumah tertentu.
 

Ekstasi dari Belanda dan Polandia

Berserak hampir ke seluruh dunia, dewasa ini tablet "gila" ini datang dari Belanda atau Polandia, dibuat di laboratorium gelap. Limbah pembuatan obat tersebut mencemari lingkungan. Berbagai campuran bahan kimia itu berbahaya bagi penduduk setempat. Produknya, yang disebut "Cock-tali" itu, dipertajam lagi dengan menggunakan "Speed" atau kofeine, sehingga memberi tinjauan yang luar biasa. Bahkan para pengedarnya tidak tahu seberapa jauh kenikmatan yang didatangkan obat ini.
 

Di Negeri Balanda, meski penjualan bahan ecstasy dilarang, polisi dan hakim masih tetap menahan diri untuk mengadakan kampanye anti-penggunaan bahan ini, dan mengadakan pengetesan apakah obat ini benar berbahaya. Mungkin mereka ingin suatu bukti yang sangat meyakinkan sebelum ditindak secara tegas dan tuntas.
 

Dengan menerima bayaran 2,5 gulden, seorang pemuda dapat men- coba apakah pil ini berbahaya atau tidak. Juga, dengan demikian, dapat diketahui dampak terhadap lingkungan. "Jika MDMA dibutuhkan lagi, kita harus bertanggung jawab sampai seberapa jauh obat ini aman untuk digunakan," kata Ernst From- berg, dari Kementerian Kesehatan Belanda.
 

Demikian juga dengan Margarethe Nimsch, kepala yang membidangi bagian kesehatan di Frankfurt. Dalam ceramahnya tentang penggunaan bahan campuran kimia yang telah menjadi obat ecstasy itu, ia minta supaya benar-benar dilakukan lagi tes, yang tinjauannya lebih meyakinkan bahwa penggunaannya tidak sampai menghancurkan generasi muda.
 

Di Inggris, 20 orang telah meninggal akibat menelan ecstasy. Kebanyakan mereka mati setelah sebelumnya teler berat karena penggunaan ecstasy. Ternyata obat itu telah bekerja ketika mereka melakukan tarian ajojing nonstop selama berjam-jam, sampai kemudian terlihat tanda-tanda kelainan muncul pada fisik mereka.
 

Ahli MDMA dari Inggris, Nicholas Saunders, telah melakukan sendiri percobaan pada dirinya. Ia merasa tidak terjadi perubahan yang luar biasa. Ini dijelaskannya dalam bukunya yang baru, Ecstasy, penerbit Ricci Bilger, Zurich, Swiss. Antara lain ia mengatakan, "Saya ini manusia penyelidik. Melalui peng- gunaan MDMA, kehidupan dapat diperlihatkan kembali. Saya melihat dengan cara yang lain, hidup ini penuh kesedihan jika segera menjadi runtuh." Sinting.


sumber

Selasa, 11 Februari 2014

Sejarah Penting Dibalik Penemuan Kacamata

http://www.couponsaver.org/blog_images/glassesshop-coupons-for-the-best-eyeglasses-at-the-lowest-prices-17.jpg
Kacamata merupakan salah satu penemuan terpenting dalam sejarah kehidupan umat manusia. Setiap peradaban mengklaim sebagai penemu kacamata. Akibatnya, asal-usul kacamata pun cenderung tak jelas dari mana dan kapan ditemukan.

Lutfallah Gari, seorang peneliti sejarah sains dan teknologi Islam dari Arab Saudi mencoba menelusuri rahasia penemuan kacamata secara mendalam. Ia mencoba membedah sejumlah sumber asli dan meneliti literatur tambahan.

Investigasi yang dilakukannya itu membuahkan sebuah titik terang. Ia menemukan fakta bahwa peradaban Muslim di era keemasan memiliki peran penting dalam menemukan alat bantu baca dan lihat itu.

Lewat tulisannya bertajuk The Invention of Spectacles between the East and the West, Lutfallah mengungkapkan, peradaban Barat kerap mengklaim sebegai penemu kacamata. Padahal, jauh sebelum masyarakat Barat mengenal kacamata, peradaban Islam telah menemukannya. Menurut dia, dunia Barat telah membuat sejarah penemuan kacamata yang kenyataannya hanyalah sebuah mitos dan kebohongan belaka.

”Mereka sengaja membuat sejarah bahwa kacamata itu muncul saat Etnosentrisme,” papar Lutfallah.

Menurut dia, sebelum peradaban manusia mengenal kacamata, para ilmuwan tdari berbagai peradaban telah menemukan lensa. Hal itu dibuktikan dengan ditemukannya kaca.

http://www.thesciencefair.com/Merchant2/graphics/00000001/LensConcave_M.jpg
Lensa juga dikenal pada beberapa peradaban seperti Romawi, Yunani, Hellenistik dan Islam. Menurut bukti yang ada, lensa-lensa pada saat itu tidak digunakan untuk magnification (perbesaran), tapi untuk pembakaran. Caranya dengan memusatkan cahaya matahari pada fokus lensa/titik api lensa.

Oleh karena itu, mereka menyebutnya dengan nama umum “pembakaran kaca/burning mirrors”. ”Hal ini juga tercantum dalam beberapa literatur yang dikarang sarjana Muslim pada era peradaban Islam,” tutur Lutfallah. Menurut dia, fisikawan Muslim legendaris, Ibnu al-Haitham (965 M-1039 M), dalam karyanya bertajuk Kitab al-Manazir (tentang optik) telah mempelajarai masalah perbesaran benda dan pembiasan cahaya.

Ibnu al-Haitam mempelajari pembiasan cahaya melewati sebuah permukaan tanpa warna seperti kaca, udara dan air. “Bentuk-bentuk benda yang terlihat tampak menyimpang ketika terus melihat benda tanpa warna”. Ini merupakan bentuk permukaan seharusnya benda tanpa warna,” tutur al-Haitham seperti dikutip Lutfallah.

Inilah salah satu fakta yang menunjukkan betapa ilmuwan Muslim Arab pada abadke-11 itu telah mengenali kekayaan perbesaran gambar melalui permukaan tanpa warna. Namun, al-Haitham belum mengetahui aplikasi yang penting dalam fenomena ini. Buah pikir yang dicetuskan Ibnu al-Haitham itu merupakan hal yang paling pertama dalam bidang lensa.

Paling tidak, peradaban Islam telah mengenal dan menemukan lensa lebih awal tiga ratus tahun dibandingkan Masyarakat Eropa. Menurut Lutfallah, penemuan kacamata dalam peradaban Islam terungkap dalam puisi-puisi karya Ibnu al-Hamdis (1055 M- 1133 M). Dia menulis sebuah syair yang menggambarkan tentang kacamata. Syair itu ditulis sekitar200 tahun, sebelum masyarakat Barat menemukan kacamata. Ibnu al-Hamdis menggambarkan kacamata lewat syairnya antara lain sebagai berikut:

”Benda bening menunjukkan tulisan dalam sebuah buku untuk mata, benda bening seperti air, tapi benda ini merupakan batu. Benda itu meninggalkan bekas kebasahan di pipi, basah seperti sebuah gambar sungai yang terbentuk dari keringatnya,” tutur al-Hamdis.

Al-Hamdis melanjutkan, ”Ini seperti seorang yang manusia yang pintar, yang menerjemahkan sebuah sandi-sandi kamera yang sulit diterjemahkan. Ini juga sebuah pengobatan yang baik bagi orang tua yang lemah penglihatannya, dan orang tua menulis kecil dalam mata mereka.”

Syair al-Hamids itu telah mematahkan klaim peradaban Barat sebagai penemu kacamata pertama.

Pada puisi ketiga, penyair Muslim legendaris itu mengatakan, “Benda ini tembus cahaya (kaca) untuk mata dan menunjukkan tulisan dalam buku, tapi ini batang tubuhnya terbuat dari batu (rock)”.

Selanjutnya dalam dua puisi, al-Hamids menyebutkan bahwa kacamata merupakan alat pengobatan yang terbaik bagi orang tua yang menderita cacat/memiliki penglihatan yang lemah. Dengan menggunakan kacamata, papar al-Hamdis, seseorang akan melihat garis pembesaran.

Dalam puisi keempatnya, al-Hamdis mencoba menjelaskan dan menggambarkan kacamata sebagai berikut: “Ini akan meninggalkan tanda di pipi, seperti sebuah sungai”. Menurut penelitian Lutfallah, penggunaan kacamata mulai meluas di dunia Islam pada abad ke-13 M. Fakta itu terungkap dalam lukisan, buku sejarah, kaligrafi dan syair.

Dalam salah satu syairnya, Ahmad al-Attar al-Masri telah menyebutkan kacamata. “Usia ua datang setelah muda, saya pernah mempunyai penglihatan yang kuat, dan sekarang mata saya terbuat dari kaca.” Sementara itu,sSejarawan al-Sakhawi, mengungkapkan, tentang seorang kaligrafer Sharaf Ibnu Amir al-Mardini (wafat tahun 1447 M). “Dia meninggal pada usia melewati 100 tahun; dia pernah memiliki pikiran sehat dan dia melanjutkan menulis tanpa cermin/kaca. “Sebuah cermin disini rupanya seperti lensa,” papar al-Sakhawi.

Fakta lain yang mampu membuktikan bahwa peradaban Islam telah lebih dulu menemukan kacamata adalah pencapaian dokter Muslim dalam ophtalmologi, ilmu tentang mata. Dalam karanya tentang ophtalmologi, Julius Hirschberg , menyebutkan, dokter spesialis mata Muslim tak menyebutkan kacamata. ”Namun itu tak berarti bahwa peradaban Islam tak mengenal kacamata,” tegas Lutfallah. desy susilawati

Eropa dan Penemuan Kacamata
http://listverse.files.wordpress.com/2007/09/friedrich-herlin-reading-saint-peter-1466.jpg

Roger Bacon
Pada abad ke-13 M, sarjana Inggris, Roger Bacon (1214 M – 1294 M), menulis tentang kaca pembesar dan menjelaskan bagaimana membesarkan benda menggunakan sepotong kaca. “Untuk alasan ini, alat-alat ini sangat bermanfaat untuk orang-orang tua dan orang-orang yang memiliki kelamahan pada penglihatan, alat ini disediakan untuk mereka agar bisa melihat benda yang kecil, jika itu cukup diperbesar,” jelas Roger Bacon.

Beberapa sejarawan ilmu pengetahuan menyebutkan Bacon telah mengadopsi ilmu pengetahuannya dari ilmuwan Muslim, Ibnu al-Haitam. Bacon terpengaruh dengan kitab yang ditulis al-Haitham berjudul Ktab al-Manazir Kitab tentang Optik. Kitab karya al-Haitham itu ternyata telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.

Ide pembesaran dengan bentuk kaca telah dicetuskan jauh sebelumnya oleh al-Haitham. Namun, sayangnya dari beberapa bukti yang ada, penggunaan kaca pembesar untuk membaca pertama disebutkan dalam bukunya Bacon.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/b1/Julius_Hirschberg.jpg/220px-Julius_Hirschberg.jpg

Julius Hirschberg
Julius Hirschberg, sejarawan ophthalmologi (ilmu pengobatan mata), menyebutkan dalam bukunya, bahwa perbesaran batu diawali dengan penemuan kaca pembesar dan barulah kacamata tahun 1300 atau abad ke-13 M. “Ibnu al-Haitham hanya melakukan penelitian mengenai pembesaran pada abad ke – 11 M,” cetusnya Hirschberg.

Kacamata pertama disebutkan dalam buku pengobatan di Eropa pada abad ke-14 M. Bernard Gordon, Profesor pengobatan di Universitas Montpellier di selatan Perancis, mengatakan di tahun 1305 M tentang tetes mata (obat mata) sebagai alternatif bagi orang-orang tua yang tidak menggunakan kacamata.

http://www.homeoint.org/morrell/articles/photo/chauliac.jpg

Guy de Chauliac
Tahun 1353 M, Guy de Chauliac menyebutkan jenis obat mata lain untuk menyembuhkan mata, dia mengatakan lebih baik menggunakan kacamata jika obat mata tidak berfungsi.

Selain para ilmuwan di atas, adapula tiga cerita yang berbeda disebutkan oleh sarjana Italia, Redi (wafat tahun 1697). Cerita pertama, disebutkan dalam manuskrip Redi tahun 1299 M. Disebutkan dalam pembukaan bahwa pengarang adalah orang yang sudah tua dan tidak bisa membaca tanpa kacamata, yang ditemukan pada zamannya.

Cerita kedua, juga diceritakan oleh Redi, menunjukkan bahwa kacamata disebutkan dalam sebuah pidato yang jelas tahun 1305 M, dimana pembicara mengatakan bahwa perlatan ini ditemukan tidak lebih cepat dari 20 tahun sebelum pidato tersebut diungkapkan.

Cerita ketiga, menyebutkan bahwa biarawan (the monk) Alexander dari Spina (sebelah timur Itali) belajar bagaimana menggunakan kacamata. Dia wafat tahun 1313 M.

Akhirnya tiga versi cerita berbeda tersebut menyebarluas, karena banyak buku lain yang mengadopsi cerita-cerita yang disebutkan Redi setelah dia wafat. Namun, beberapa sejarahwan ilmu pengetahuan mengatakan bahwa Redi telah membuat cerita bohong dan mereka tidak percaya.

Bahkan, dalam buku Julius Hirschberg, juga disebutkan tentang cerita Redi itu, ditulis antara tahun 1899 dan 1918 di Jerman dan banyak informasi yang sudah tua dan banyak yang diperbaharui. Buku tersebut kemudian diterjemahkan (tanpa revisi) ke dalam bahasa Inggris dan dipublikasikan tahun 1985. Hasilnya, cerita Redi menyebar di Inggris, artikel penelitian itu ditolak kebenaran ceritanya dan ini ditolak Julius Hirschberg.

Beberapa cerita bohong lain juga ditulis oleh seorang jurnalis di pertengahan abad ke 19 M. Dia mengklaim Roger Bacon merupakan penemu kacamata seperti. Bahkan ia juga menyebutkan bahwa biarawan (the Monk) Alexander juga telah diajarkan Roger Bacon bagaimana menggunakan kacamata. Kabar ini tentu saja dengan cepat menyebar.

Kebohongan lain juga terlihat pada sebuah nisan. Seorang pengarang menunjukkan bahwa sebuah nisan di kuburan Nasrani yang berada di gereja, tertulis sebuah kalimat, “disini beristirahat Florence, penemu kacamata, Tuhan mengampuni dosanya, tahun 1317″. Masih banyak cerita atau mitos lainnya tentang penemu dan pembuatan kacamata di Eropa. Semua mengklaim sebagai penemu pertama alat bantu baca dan melihat itu.


sumber : http://tidakin.blogspot.com/2010/11/rahasia-dibalik-penemuan-kacamata.html

Selasa, 31 Desember 2013

Luahan Pengantin Baru Kesal Majlis Gembira Bertukar Sejarah Hitam

Luahan Pengantin Baru - Kesal Majlis Gembira Bertukar Sejarah Hitam | Tragedi keracunan makanan di majlis kenduri perkahwinan di Kampung Huma, Tanjung Dawai, yang meragut tiga nyawa kelmarin menjadi sejarah hitam buat pengantin baru, Hasliyana Yusuf.
Luahan Pengantin Baru - Kesal Majlis Gembira Bertukar Sejarah Hitam

Hasliyana Yusuf, anak kedua daripada tiga beradik itu berkata, trauma dan kesal dengan apa yang berlaku pastinya tidak dapat dilupakan.

“Kami sekeluarga begitu gembira dengan majlis yang diadakan memandangkan saya anak pertama yang melangsungkan perkahwinan.

“Namun, kejadian ini berubah menjadi nasib malang buat kami,” katanya ketika ditemui di Hospital Yan, semalam.

Menurut bekas pelajar Politeknik Port Dickson itu, keluarganya sendiri turut mengalami keracunan sama.

“Mak, kakak dan adik saya turut mengalami keracunan dan ditahan di wad. Manakala keluarga sebelah suami saya tidak ada yang menerima kesan keracunan itu,” katanya.

Menurut kata bapa pengantin, Yusuf Ahmad, 55, masakan yang disediakan kepada tetamu jemputan sempena kenduri itu dimasak oleh kakaknya dengan bantuan saudara-mara lain.

“Juadah yang kami sediakan ialah ayam masak merah, gulai ikan talang, kerabu pucuk paku dan sambal ikan bilis.

“Manakala ayam yang dijadikan juadah ditempah daripada dua pembekal dan satunya membekalkan ayam yang sudah berbau,” katanya.



sumber